Batara Kala Alasan Orang Jawa Takut Gerhana

JURNALJABAR.CO.ID, Bandung–Hari kemarin, Selasa, 25 Oktober 2022 terjadi gerhana matahari sebagian. Sayangnya, menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) fenomena gerhana matahari sebagian tidak bisa disaksikan dari Indonesia. Bicara gerhana matahari, pada 11 Juni 1983 pernah terjadi gerhana matahari total yang menggemparkan dan membuat masyarakat di Pulau Jawa ketakutan. Sebab, saat itu sebagian besar penduduk di Jawa masih mempercayai sejumlah mitos seputar gerhana.

Dahulu dalam kepercayaan masyarakat Jawa, mereka percaya jika gerhana terjadi karena matahari dimakan Batara Kala. Agar matahari tidak jadi dimakan Batara Kala, masyarakat Jawa percaya caranya adaah menabuh kentongan bersama-sama secara terus menerus. Tak hanya kentongan, yang dipukul, pohon yang berbuah juga harus dipukul batangnya agar terhindar dari serangan sekaligus menakut-nakuti Batara Kala.

Lantas siapa Batara Kala?

Menurut Suwandono dan kawan-kawan dalam Ensiklopedi Wayang Purwa (1991: 265), Batara Kala adalah putra dewa tetapi berwujud raksasa karena terkena kutukan. Batara Kala adalah sosok raksasa jahat yang mengincar nyawa manusia, terutama anak-anak. Diceritakan Batara Kala diam-diam terbang ke surga dan mencuri Tirta Amertasari alias air abadi yang dipercaya bagi siapa saja yang meminum air tersebut akan hidup selamanya.

Namun aksi pencurian tersebut diketahui Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan). Mereka pun melaporkan perbuatan raksasa ini ke Batara Guru, pemimpin para dewa.

Belum sempat Tirta Amertasari tertelan oleh Batara Kala, tiba-tiba datang Batara Wisnu (Dewa Pemelihara Alam/Pelindung) yang diutus Batara Guru. Batara Wisnu langsung menebas batang leher Batara Kala.

Tubuh Batara Kala jatuh ke bumi, sementara kepalanya tetap melayang di angkasa. Karena itu Batara Kala sangat dendam kepada Batara Surya dan Batara Candra dan selalu mencoba menelan kedua dewa itu setiap ada kesempatan.

Yang paling fenomenal tentunya adalah soal mitos perempuan hamil yang menjadi incaran utama Batara Kala. Karena itu, perempuan yang sedang mengandung diwajibkan bersembunyi di tempat gelap, seperti di bawah atau kolong tempat tidur.

Kepercayaan itu bertujuan agar bayi yang dikandung tidak keguguran saat gerhana matahari berlangsung. Jika melanggar akibatnya bisa bahaya. Bayi bisa cacat, berkulit belang hitam putih, sampai yang paling tragis adalah kehilangan nyawa.