Pesulap Merah dan Kesadaran Modernitas

PANGANDARAN, JURNALJABAR.CO.ID – kebanyakan orang Indonesia, fenomena perdukunan bukan hal tabu. Banyak orang, dari masyarakat biasa sampai pejabat, percaya kepada dukun atau “orang sakti”.

Tujuan mereka datang ke dukun sangat beragam, dari meminta pelaris, santet, pesugihan, susuk kecantikan, hingga kepentingan agar naik jabatan.

Aksi Pesulap Merah seolah sedang mengajak kita bergerak maju dari alam pikir Abad Pertengahan menuju alam pikir abad modern.

Singkatnya, bentuk kesadaran modernitas dicirikan dengan 3 hal: subyektivitas, kritik, dan kemajuan.

Dedi Supriatna selaku Ketua Umum HMI Komisariat Pangandaran mengatakan, dirinya tidak tahu apakah aksi pesulap merah di media sosial (medsos) ini berangkat dari kesadaran penuh, disertai konsep modernitas, mau membawa sebagian dari kita ke alam pikir abad modern.

“Yang saya tahu, aksinya hanya sebatas upaya agar masyarakat tidak gampang percaya pada hal-hal gaib dan takhayul yang dilakukan oleh beberapa orang dengan imbalan materi,” kata Dedi.

Pada akun youtubenya, pesulap merah secara terbuka banyak membongkar praktik perdukunan, yang selama ini dianggap sebagai kesaktian itu, ternyata cuma trik sulap belaka. (Kimas)